“Internet, Dunia Baru untuk Bersosialisasi”

Globalisasi mengacu pada keseragaman hubungan dan saling keterkaitan antara negara dan masyarakat yang membentuk system dunia modern. Menurut Kennedy dan Cohen, transformasi ini telah membawa kita pada globalisme yaitu sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi social. Sehingga akhirnya globalisasi mengacu pada kenyaaan bahwa kita semua semakin hidup dalam ‘satu dunia’, sebuah desa global ‘global village’ yang mengakibatkan terjadinya saling ketergantungan.

Global village dapat dilihat dari beberapa ciri globalisasi yaitu deteritorialisasi dimana batas geografis tidak lagi ada, transnasionalisasi dimana terjadi hal yang melewati batas-batas antar negara, serta multilokal dan translokal dengan kecendrungan besar bahwa globalisasi tidak membunuh local tapi justu merangsang dan memperkuat daya hidup lokalitas (Ignas Kleden, 2004).

Globalisasi yang bersifat multidimensional menyebabkan menguatnya ruang pribadi, kebebasan berekspresi, pengembangan ide-ide, terjadinya era persaingan/ kompetisi, naiknya intensitas hubungan antar budaya, norma social, kepentingan serta ideology antar bangsa.

Dampak dan pengaruh globalisasi juga terjadi di berbagai aspek kehidupan, mulai dari politik, ekonomi, social, hingga budaya. Salah satu perubahan yang paling terasa terjadi dalam konsep ruang dan waktu, dimana dengan banyaknya teknologi informasi yang berkembang seperti handphone, satelit, dan internet membuat semua orang dari seluruh penjuru dunia bisa terhubung dalam hitungan detik.

Perkembangan teknologi informasi ini mempengaruhi ranah komunikasi, new media atau internet adalah salah satunya. Dari data ditunjukkan bahwa internet digunakan oleh 1,46 miliar (21,9%) penduduk dunia dan akan terus tumbuh. Sedangkan di Indonesia sendiri, Internet digunakan oleh 30 juta (12,5%) per December 2009. Internet tumbuh 1.150% (2000-2009) (Internet world statistic).

Tingginya angka pengguna internet di Indonesia ini juga berpengaruh terhadap perubahan komunikasi bahkan kehidupan social para pengunanya. Masyarakat Indonesia yang umumnya dulu berkomunikasi dan bersosialisasi dengan bertatap muka langsung seperti dalam arisan, kumpul reuni, saling berkunjung ke rumah, mengobrol, dsb kian bergeser ke ranah online communication, sebut saja chat melalui YM/ Gtalk, Skype, wall FB, update status FB, Twitt dan re-twitt, bercerita di Blog, berdiskusi di Forum, dsb.

Perkembangan internet diklarifikasi akan tumbuh menjadi media hubungan sosial yang fundamental, internet memiliki peluang untuk mengembangkan hubungan antarpribadi karena dengan internet one to one relations (personal touch) dapat dibangun secara simultan melalui situs seperti chat room dan bulletin.

Fenomena social ini terjadi di semua kalangan umur. Anak SD yang banyak memalsukan umur mereka agar bisa terdaftar dalam account FB, kalangan remaja yang selalu memperbaharui status FB mereka, Twitter yang selalu update tiap detiknya dari semua user twitter, orang dewasa yang menjadi blogger untuk mengeluarkan segala kritik dan sarannya untuk dunia politik, dsb. Social network ini juga tidak hanya diminati oleh perseorangan/ individual, banyak perusahaan bonafit dengan skala international juga menggunakannya sebagai ajang merangkul para konsumennya dan pemerintah pun tidak mau kalah dengan banyaknya situs-situs resmi department yang dapat ditemukan dalam Internet.

Melalui internet, komunikasi kian terfasilitasi. Setiap orang dapat melakukan komunikasi dua arah layaknya mengobrol pada umumnya, interaktif, respon yang cepat, sembari berkomunikasi mampu menghubungkan dengan konten lainnya (link content), serta tentu saja lebih hemat.

Salah satu social network yang digemari masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia adalah Facebook. Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004. Perkembangan facebook kian terasa karena situs ini dijadikan media silaturahmi antar teman lama, teman baru dan keluarga, media diskusi dan pertukaran informasi, sarana membangun komunitas kelompok tertentu. Situs ini mempercepat globalisasi dengan cara saling berhubungan antara negara yang satu dengan yang lain.  Sosialisasi masyarakat terjadi di dalamnya, seperti mencari teman, chat, wall, status, comment, share foto dan video, serta suggest friend untuk memperkenalkan teman yang kita punya kepada teman lain kita.

Twitter juga kian hip dikalangan remaja hingga dewasa, situs jejaring social yang lebih simple dari facebook ini berhasil menjadi ajang curhat semua penggunanya. Kita bisa melihat berapa ribu twitt yang terjadi dalam satu detik. Komunikasi yang terjadi di dalamnya kian meluas ketika follower mere-twitt apa yang telah di twit oleh user, komunikasi ini kian terjadi per sekon tanpa mengenal tempat dan waktu.

Kaskus.us yang kini menjadi situs forum terbesar di Indonesia juga menjadi bukti betapa masyarakat mulai mengganti gaya sosialisasi mereka dengan hanya duduk diam di depan internet. Dalam situs ini kita bisa mendapat segala bentuk informasi yang dibutuhkan, berdiskusi dengan siapapun, membuat komunitas sesuai keinginan bersama para kaskuser, hingga bertransaksi jual beli, dsb.

Komunikasi yang terjadi di dunia Internet memang terasa menyenangkan dan memudahkan para penggunanya untuk menembus batas waktu dan jarak. Banyak anggapan yang mengatakan bahwa bersosialisasi di internet sama saja dengan di dunia nyata, dan tidak sedikit yang mengatakan bahwa dengan memiliki social network di internet seseorang akan terlihat lebih sosialis. Namun di balik itu semua, ternyata bersosialisasi melalui internet dapat membuat seseorang menjadi anti sosial sehingga merusak interaksi antar manusia dan kehidupan socialnya di dunia nyata.

Hal ini dapat terlihat dari berbagai contoh seperti : turunnya kinerja para karyawan perusahaan, dosen, dan mahasiswa yang bermain Internet saat sedang bekerja, interaksi melalui internet mengurangi waktu kerja. Berkurangnya perhatian terhadap keluarga, ini terjadi karena orang tua semakin sedikit waktunya dengan anak-anak dan keluarga mereka. Tergantikannya kehidupan sosial karena sebagian orang merasa cukup dengan berinteraksi lewat Internet sehingga mengurangi frekuensi bertemu muka. Batasan ranah pribadi dan sosial yang menjadi kabur, karena seseorang bebas menuliskan apa saja, sering kali tanpa sadar menuliskan hal yang seharusnya tidak disampaikan ke lingkup sosial. Tersebarnya data penting yang tidak semestinya, seringkali pengguna Internet tidak menyadari beberapa data penting yang tidak semestinya ditampilkan secara terbuka. Pornografi, sebagaimana situs jejaring sosial lainnya tentu ada saja yang memanfaatkan situs semacam ini untuk kegiatan berbau pornografi. Kesalahpahaman, seperti kasus pemecatan seorang karyawan gara-gara menulis yg tidak semestinya di Internet, juga terjadi penuntutan ke meja pengadilan gara-gara kesalahpahaman di Internet. Sosialisasi melalui Internet juga mendegradasi budaya asli para penggunanya.

 

issue and crisis management

Apakah Anda setuju atau tidak setuju bahwa krisis bersifat perseptual? Berikan pendapat Anda disertai contoh kasus.

Saya setuju bahwa krisis bersifat konseptual.

Menurut Kotler (Marketing Management, 1999) ; Persepsi merupakan proses di mana seseorang melakukan seleksi, mengorganisasi, dan menginterpretasi informasi-informasi yang masuk dalam pikirannya menjadi sebuah gambar besar yang memilliki arti. Sedangkan menurut Meider (Meider, 1958). Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi).

A crisis is perceptual. Krisis merupakan persepsi dari sebuah kejadian yang tidak terduga (unpredictable event) yang berpotensi untuk mengancam keberlangsungan dukungan stakeholders dan sekaligus membawa dampak bagi performa organisasi sekaligus menghasilkan outcomes negatif. Sebuah krisis merupakan hasil persepsi stakeholders atau suatu hal. Stakeholder adalah individu atau kelompok yang menjadi korban dari atau mempengaruhi organisasi (Bryson, 2004).

Melalui persepsi, seseorang mampu mengenali kehidupan sekitarnya, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. Persepsi merupakan ‘realitas’ bagi yang bersangkutan, namun realitas tersebut dapat dipersepsikan berbeda oleh tiap individu, oleh tiap anggota masyarakat yang berbeda.

Persepsi ini nantinya akan membentuk opini-opini yang beraneka ragam, opini ini lah yang berkaitan erat dengan kelangsungan hidup sebuah perusahaan. Ketika opini kian memburuk, keberadaan perusahaan juga mungkin semakin menurun. Stakeholder yang tidak senang akan suatu hal tentang perusahaan akan mempersepsikan perusahaan dalam citra yang buruk. Hal ini dapat menimbulkan krisis seperti akan terjadinya proter, pemboikotan, penuntutan, atau jenis konfrontasi lainnya.

Seorang perencana komunikasi harus mampu membuat peta persepsi untuk mengetahui opini yang berkembang dan wacana publik. kemudian menyesuaikan dengan tujuan penyelesaian krisis. Pemetaan /analisis ini memperhitungan perkembangan seperti trend of mentions, favorability rate dari media dan opinion leader dalam semua isu yang diangkat oleh stakeholders, dsb.

Contoh kasus : wahana rekreasi Wonderia, Semarang. Persepsi masyarakat sudah tidak senang terhadap tempat tersebut. Tempatnya kurang menjanjikan, hanya parkiranny saja yang luas namun permainan serta fasilitas lainnya sangat tidak memuaskan. Persepsi yang buruk ini membuat citra perusahaan sangat buruk sehingga pengunjung pun sangat sedikit. Krisis kepercayaan yang dialami perusahaan sangat terlihat dan terasa, bukan hanya bagi masyarakat setempat melainkan juga bagi masyarakat luar kota yang sedang berkunjung ke Semarang.

Corporate Social Responsibility (CSR) seringkali digunakan oleh perusahaan untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap reputasi brand ataupun korporat. Berikan pendapat Anda apakah CSR efektif untuk mengembalikan kepercayaan dan dukungan stakeholders konsumen/ public terhadap brand atau korporat pasca krisis? Gunakan literature untuk menjelaskan argument ini disertai contoh kasus yang relevan.

Corporate Social Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai strategi perusahaan untuk meminimumkan dampak negatif serta memaksimumkan dampak positif bagi para stakeholdernya, merupakan representasi sektor swasta untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan terwujudnya good corporate citizenship.

CSR bukan hanya berperan dalam memberi sumbangan kepada masyarakat melainkan juga mempunyai peran penting bagi perusahaan itu sendiri. CSR bisa menciptakan citra atau reputasi bagi perusahaan dan merek. Di negara maju, sudah banyak penelitian yang menghubungkan antara pola pembelian dengan reputasi merek. Beberapa merek bahkan sudah mencoba memposisikan diri dengan kepedulian sosial seperti The Body Shop dan British Petroleum (BP).

Saya setuju bahwa CSR merupakan cara efektif untuk mengembalikan kepercayaan stakeholder terhadap sebuah perusahaan pasca krisis. CSR itu dikatakan efektif ketika apa yang telah dirancanakan sebelumnya oleh perusahaan terlaksana dengan baik dan benar.

Pada dasarnya, CSR juga bisa membantu perusahaan mengatasi krisis manajemen. Dengan melibatkan langsung masyarakat dalam kegiatan CSR, dapat menciptakan komunitas-komunitas yang bisa membantu perusahaan mengatasi krisis. CSR merupakan pertimbangan penting dalam bagaimana stakeholder berpikir dan bersikap terhadap perusahaan.

Ketika krisis perusahaan sudah sampai ke tahap yang demikian rumit, maka CSR sudah bukan lagi sekadar kewajiban perusahaan, tetapi menjadi sebuah strategi yang dikembangkan oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan begitu banyak upaya, waktu, dan dana yang dikeluarkan untuk kegiatan seperti community development. Perusahaan umumnya menggunakan CSR yang sesuai dengan produk yang dikeluarkan, seperti perusahaan tampang pasti mempunyai CSR di bidang lingkungan.

Umumnya, CSR telah dilakukan perusahaan sebelum krisis terjadi dan CSR tersebut akan semakin gencar ketika terjadi krisis karena saat krisis perusahaan pasti akan menjanjikan hal yang lebih banyak lagi kepada masyarakat (sehingga menuntut perusahaan untuk merealisasikannya). Ketika krisis, CSR reporting lah yang lebih umum dipakai perusahaan untuk menunjukkan kepada stakeholdar bahwa perusahaan mempunyai sikap baik meskipun sedang mengalami kemunduran / krisis.

Contoh kasusnya – seperti pada kasus keracunan merek Tylenol di Amerika Serikat (AS) tahun 1982. Pada saat itu, Johnson & Johnson (J&J) menarik 31 juta botol produk tersebut – nilainya 100 juta dolar – dari pasaran. Segala upaya dilakukan oleh J&J seperti membuka segala bentuk jalur informasi, penukaran Tylenol, pegembalian uang, dsb. Sampai saat ini J&J memiliki reputasi baik di masyarakat dan dengan cepat konsumen melupakan bahwa salah satu brand mereka “pernah meracuni” masyarakat AS. Perlahan dan pasti J&J mengembalikan kepercayaan serta memperbaiki citra perusahaannya di mata stakeholder. Kasus ini merupakan contoh CSR yang terjadi secara efektif.

Contoh lainnya adalah kasus Perusahaan Entergy karena badai Katrina dan Rita di New Orleas, Amerika Serikat. Ketika badai terjadi, banjir melanda 80 % kota. Sistem generator da tranmisi listrik rusak berat ditambah kerusakan sarana komunnikasi, kelangkaan bahan bakar, penjarahan dan kriminalitas yang marak tejadi di lokasi bencana. Entergy mengerahkan 10.000 pekerja untuk dapar kembali melayani pelanggannya dalam seminggu setelah badai melanda. Pada akhir bulan, hampir seluruh pelanggan telah berhasil dilayani kembali. CSR yang dilakukan oleh Entergy berhasil memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam menangani krisis, kepercayaan stakeholder pun kian membaik.

Contoh di Indonesia terjadi di perusahaan Lapindo. Perusahaan ini tidak melakukan fungsi CSR secara benar, sepert mengganti segala kerugian yang dialami oleh masyarakat Sidoarjo, dsb. Citra perusahaan yang telah buruk dikarenakan kasus tersebut kian memburuk ketika tidak adanya CSR yang dilakukan, kredibilitasnya sangat dipertanyakan hingga kini. Ini adalah contoh kasus yang tidak menggunakan CSR dengan baik dan berakibat buruk bagi perusahaan itu sendiri.

Literature : Ongoing Crisis Communication. Coombs, Timothy. USA. 2007.

Media mapping digunakan oleh perencana manajemen krisis untuk mendapatkan informasi terkait perkembangan krisis. Identifikasi media-media yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk memonitor opini publik terkait dengan perkembangan krisis.

Media mempunyai andil besar dalam perkembangan berbagai isu dan spekulasi dalam pemberitaannya. Hal ini bisa terlihat dari kecepatan memperoleh berita dan mengidentifikasi kasus, kemampuan investigasi dan menembus narasumber terkait, dan sebagainya.

Kekuatan media massa dalam mengarahkan opini dan pilihan sikap publik dalam era modern diyakini jauh lebih kuat dibandingkan kampanye langsung seorang presiden sekalipun. Meskipun pengaruhnya di Indonesia tidak sebesar di negara-negara maju, media massa masih menjadi ujung tombak pembangunan citra positif. Tak diragukan lagi alasan bagi perusahaan untuk menggunakan media sebagai perantara kepada stakeholder.

“If you don’t announce bad news yourself, the media will find someone who will say something, and that source will not likely know all the facts or properly communicate your point of view” (Jeffrey A. Davis, praktisi Komunikasi pada Sawmill PR)

Komunikasi krisis berhubungan erat dengan peran media massa. Media massa adalah salah satu partner utama bagi tim komunikasi krisis. Media merupakan pihak yang mempublikasikan hitam-putihnya fakta di lapangan sekaligus perkembangan terakhir (update) penanganan krisis. Media pula yang menyajikan berbagai tanggapan balik, reaksi publik atas krisis yang terjadi serta penanganannya.

Situasi darurat, kasus, dan bencana dapat terjadi kapan pun dan di mana pun. Untuk bisa mengantisipasi dan mengendalikan situasi tersebut dibutuhkan sistem yang telah disiapkan sebelumnya, strtegy komunikasi krisis. Kredibilitas perusahaan dipertaruhkan di hadapan publik.

Media Mapping

Dalam krisis, pemetaan media dilakukan untuk mengetahui perkembangan opini di masyarakat luas, terutama stakeholder yang berkepentingan. Pemetaan ini nantinya menghasilkan paparan secara jelas bagian mana saja yang harus dikendalikan terlebih dahulu, opini leader pun dapat dikendalikan.

Media pertama yang perlu diperhatikan adalah internet. Media ini merupakan media sosial yang pengaruhnya sangat cepat dan luas. Monitoring dapat dilakukan melalui web, forum-forum, email, blog, jejaring sosial, dan sebagainya. Melalui internet berita dapat tersebar hanya dalam hitungan detik, dan mempunyai impact yang cukup dalam karena lebih personal. Contohnya saja kasus Prita dan rumah sakit OMNI, kasus ini kian bergulir hebat melalui internet hingga terbentuk solidaritas besar mengumpulkan 1000koin untuk Prita. Melalui internet, informasi dapat bergulir tanpa dapat dibatasi. Perusahaan harus memonitorinya dan mempunyai stategi untuk menyiasatinya.

Media massa (televisi, radio, TV kabel dan media cetak), terutama media cetak. Koran merupakan salah satu media cetak  yang mempengaruhi opini publik. Apa yang diberitakan di koran dapat mempengaruhi opini publik. Jurnalis dalam koran tersebut juga butuh dimonitor, karena mereka dapat menjadi opini leader dalam sebuah isu. Hal yang sama juga terjadi dalam media cetak majalah dan tabloid, terutama dalam majalah komunitas, majalah yang berkaitan dengan bidang perusahaan (contoh : berita dalam majalah Marketing Mix bagi perusahaan nirlaba). Dalam media TV, perusahaan dapat memonitor melalui pemberitaan di tv.

flyer

flyer tugas gw,,

lobi dan negosiasi

Lobi dan Negosiasi adalah pendekatan yang paling efektif untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan. Beberapa hal yang mempunyai peran penting dalam negosiasi adalah :

attitude

Attitude atau sikap merupakan hal pertama yang diperhatikan oleh orang lain. Bagaimana seseorang bersikap menunjukkan bagaimana kepribadian orang tersebut.

Dalam lobi dan negosiasi, sikap sangat diperhatikan. Jangan sampai melakukan suatu hal yang tidak disenangi oleh pihak lawan. Hal ini nantinya akan berdampak pada hasil kesepakatan. Ketika seseorang sudah melakukan sikap yang buruk di awal maka dia tidak akan mendapat respect (diacuhkan) dari pihak lawan. Bersikaplah profesional dalam bidangnya. Contoh kasus :

  • Harus menghormati pihak lawan, seperti dengan cara mendengarkan ketika pihak kedua sedang berbicara, jangan mengacuhkannya.
  • Berilah sikap perhatian dan ketertarikan ketika pihak lawan sedang menjelaskan pemikirannya, hal ini membuat pihak lawan merasa dihargai dan diperhatikan kepentinganny.  Itu berarti telah membuka jalan untuk hasil kesepakatan yang positif.
  • Bersikaplah sopan ketika berbicara, jangan merasa paling hebat dan paling benar agar tidak dibenti pihak lawan.
  • Bersikap tenang dan obyektif, jangan mudah terpengaruh dengan reaksi orang lain. Sikap ini memperlihatkan profesionalitas.

performa non verbal

Bentuk pikiran dari komunikasi nonverbal meliputi bahasa badan, gesture/gerakan isyarat, sentuhan, raut wajah, dan sikap tubuh. Hal ini akan memberikan indikasi-indikasi mengenai gaya seseorang dalam bernegosiasi.

Bahasa tubuh harus diperhatikan, tetapi ingatlah bahwa hal ini berbeda di antara kebudayaan-kebudayaan yang berbeda pula. Bahasa tubuh yang dikira universal tapi sebenarnya menyampaikan pesan yang berbeda dalam kebudayaan yang lain, misalnya membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jari serta membuat tanda “ V “ dengan jari telunjuk dengan jari tengah. Meskipun dalam bahasa Inggris masing-masing diterima sebagai tanda OK dan kemenangan, keduanya memiliki makna alternatif yang bisa sangat berlainan dalam kebudayaan lain.

Memperhatikan dan mengetahui lebih dalam mengenai pihak lawan dapat membantu dalam menentukan performa non verbal yang dapat digunakan seperti :

  • Jika menghadapi orang jawa, maka intonasi bicara harus lebih dihaluskan dan memberikan senyuman..

Dalam lobi dan negosiasi, bahasa tubuh yang banyak digunakan antara lain adalah

  • Menyangkut tangan. Memberi tanda, mereka sedang mengevaluasi apa yang sedang dikatakan dengan cara menahan dagu dengan menggunakan ibu jari dan menggosokkan jari tengah dibibir bawah, dan jari telunjuk menunjuk kepipinya.
  • Anggukan kepala.
  • Gerakan tangan. Banyak orang menggunakan gerakan tangan untuk menguatkan pesan mereka, yang paling umum adalah “perpanjangan” tangan seperti bolpoin, pointer atau bahkan rokok. Dengan menggunakan ini, jarak yang dipakai oleh tubuh akan lebih panjang dan orang yang bersangkutan dirasa lebih percaya diri dan memiliki kekuasaan. Ini memperluas  ‘wilayah’ yang bersangkutan dan mengirim pesan yang agak berbeda daripada berdiri dengan tangan dilipat di pinggang atau disandarkan dipaha samping.
  • Gerakan lain seperti Membenahi dasi, merapikan rambut atau pergelangan tangan melambangkan ‘merapikan diri’. Orang sering menggunakan perilaku ini untuk’meluluhkan hati’ orang lain, meskipun bahasa tubuh ini bisa dipersepsikan sebagai tanda grogi atau gugup. Mendekatkan gelas atau cangkir ke tubuh memberikan mekanisme pertahanan. Mereka secara efektif menutupi bagian-bagian tubuh yang lebih rawan.
  • Cara duduk bisa menyampaikan pesan yang kuat tentang adanya hierarki. Mendekatkan kursi ke meja di seberang orang lain secara otomatis menempatkan seseorang dalam posisi mengontrol. Menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan tangan kebelakang dan satu kaki disilangkan secara horizontal di atas lutut menyampaikan rasa superioritas. Posisi lutut tertutup atau meringkuk bisa berarti tidak setuju, membela diri atau tidak berminat.
  • Anggota badan. Satu lengan rapat ke tubuh dengan siku ditahan tangan lain.
  • Seluruh tubuh. Apabila bagian badan atas dicondongkan ke belakang dari posisi vertikal, orang ini menandakan menjauh dari sesuatu yang sedang dibicarakan.

Selain itu, sinyal non-verbal juga disampaikan melalui ekspresi wajah, antara lain :

  • Alis mata bisa menekankan sinyal secara dramatis. Alis menyatu ditengah menunjukkan adanya pertanyaan, keraguan atau perhatian. Kedua alis ditinggikan mengindikasikan terkejut atau takjub dan satu alis dinaikkan mengindikasikan sinis atau curiga.
  • Mulut tersungging. Sunggingan dapat mengartikan kesombombongan atau keacuhan.

percaya diri

Percaya diri harus ditunjukkan dalam lobi dan negosiasi. Jika seseorang tidak percaya dengan dirinya sendiri, bagaimana orang lain dapat percaya dengan orang tersebut?

Untuk mempunyai rasa percaya tinggi yang baik, seseorang harus mempunyai pengetahuan terlebih dahulu tentang hal yang akan dibicarakan. Kepercayaan diri yang ditunjukkan dalam lobi dan negosiasi dapat mempengaruhi pihak lawan untuk mengikuti apa yang disarankan. Namun jangan juga over percaya diri, hal ini malah akan membuat pihak lawan tidak senang dan tidak memperdulikan orang tersebut. Percaya diri dapat ditunjukkan dalam berbagai hal, seperti :

  • Kata-kata yang dibicarakan jelas terdengar serta intonasinya tepat,hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut percaya akan apa yang dibicarakan, percaya pada diri sendiri.
  • Jangan sering menggunakan kata “eh” atau ”emm” dsb. Hal ini menunjukkan kebingungan, ketidaktahuan, serta ketidakpercayaan dengan apa yang akan dibicarakan, pihak lawan dapat menganggap remeh orang tersebut.

santai dan terbuka

Dalam lobi atau negosiasi, hubungan yang dibangun merupakan hubungan jangka panjang yang terus dibina. Sikap santai yang diberikan dapat membuat pihak lawan nyaman terhadap orang tersebut, kenyamanan inilah yang nantinya dapat menimbulkan hubungan jangka panjang yang menguntungkan. Ketika seseorang sudah nyaman akan suatu hal maka ia tidak ingin lepas dari hal tersebut, hal itu jugalah yang akan terjadi.

Sikap terbuka baik salah satu yang perlu dijunjung tinggi. Keterbukaan dapat menambah hubungan yang harmonis. Jangan sekali-kali melakukan kebohongan besar yang nantinya dapat bersifat fatal. Sekali pihak lawan tahu bahwa ia telah dibohongi maka seterusnya ia tidak akan pernah percaya kembali. Seperti pribahasa ”sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga”, walaupun pandai berbohong pasti akan ketahuan juga dan sekalinya ketahuan maka dampaknya akan berkelanjutan.

Terbuka memang sebaiknya dilakukan, namun tetap saja ada batasan-batasan tertentu seperti jangan sampai nantinya malah membocorkan rahasia perusahaan atau hal penting lainnya. Contoh kasusnya antara lain :

  • Mencoba membual. Membual dengan mengubah bahasa tubuh, maka hasilnya banyak buruknya daripada baiknya. Jika bukan seorang actor yang terlatih dengan baik, sulit mengulangi ketidakmampuan tubuh untuk berbohong. Selalu ada pesan campuran, yang menandakan saluran komunikasi orang tersebut tidak benar. Ini disebut ‘kebocoran dalam komunikasi’ dan akan terlihat bagaimanapun juga.
  • Bersikap kaku. Hal ini membuat pihak lawan merasa canggung, ada jarak yang terbuat karenanya.

kebiasaan

Setiap orang pasti mempunyai kebiasaannya masing-masing. Dalam lobi dan negosiasi, kebiasaan seseorang bisa menjadi nilai lebih atau bahkan bumerang bagi diri sendiri.

Kebiasaan seseorang yang dilatarbelakangi oleh berbagai faktor memang sulit untuk diubah dalam waktu yang singkat, namun masih bisa dikendalikan pada saat-saat tertentu. Jangan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik atupun kebiasaan lainnya karena belum tentu orang lain / pihak lawan menyukainya. Contoh :

  • Kebiasaan untuk buang angin disembarang tempat tidak boleh sampai terjadi ketika sedang melakukan lobi dan negosiasi, hal ini akan membuat pihak lawan marah atau malah sampai menghentikan lobi dan negosiasi yang sedang dilakukan
  • Mengetukkan jari pada meja atau kursi. Mungkin hal ini akan terkesan biasa bagi satu orang,tapi belum tentu bagi orang lain it menyenangkan, ada yang membencinya karena berisik dan mengganggu. Jadi sebaiknya dihindari.
  • Garuk-garuk kepala. Sangat risih untuk melihat seseorang menggaruk kepalanya ketika sedang bicara beradu argumen dan bernegosiasi. Garuk-garuk kepala seperti menandakan bingung atau sedang berpikir, dan juga terlihat tidak sopan.

congruence

Congruence mempunyai arti kecocokan, keharmonian, keselarasan, kesesuaian, harmony.

Jika dalam lobi dan negosiasi terjadi keselarasan/kecocokan maka lobi dan negosiasi dapat berhasil dengan baik. Kecocokan tersebut harus ditemukan oleh kedua pihak agar menghasilkan kesepakatan dikedua belah pihak. Ketka kecocokan tersebut tidak dilaukan maka akan ada yang kecewa, dsb.

Keduabelah pihak harus saling tau apa yang diinginkan dirinya dan pihak lawan, bagaimana mereka bisa memberikan jalan tengah atau menjadi sebuah keinginan bersama. Hal ini sangat baik dalam melobi atau bernegosiasi. Ini harus diperhatikan agar lobi dan negosiasi mendapatkan hasil yang baik. Contoh :

  • Sebua acara mahasiswa ingin mengadakan seminar, mereka butuh biaya untuk bikin sertifikat, akhirnya mereka melobi sebuah percetakan untuk memberikan mereka sponsor berupa uang tunai. Percetakan tersebut tidak dapat memberikan nominal yang besar tapi dapat memberikan sertifikatnya secara langsung (mencetakkan secara cuma-cuma) dengan syarat logo percetakan tersebut dicantumkan. Karena mereka sudah saling cocok maka negosiasi pun berhasil, terjadilah kerjasama diantara kedua pihak tersebut.

Kasus Priok Berdarah


Latar Belakang Masalah

Kasus ini sudah dimulai sekitar 25 tahun lalu, namun tidak kujung usai hingga kini. Kasus semakin meruncing ketika Rabu, 14 april 2010 terjadi bentrokan antara aparatur penegak hukum sipil atau Satpol PP dan warga Priok.

Tidak adanya mediasi yang jelas dari Satpol PP kepada warga ketika akan melakukan penertiban kompleks makam Mbah Priok menghasilkan bentrokan berdarah tersebut. Warga yang sudah lama menetap di daerah Priok memiliki ”sense of belonging” yang tinggi sehingga ketika adanya tindakan yang membahayakan kultur dan lingkungannya, mereka akan merasa terusik serta merasa harus menyelesaikannya.

Kekerasan hati para warga dibalas dengan kekerasan sikap para Satpol PP, hal inilah pemicu inti kasus Priok berdarah.

Identifikasi Masalah

Masalah ini diidentifikasikan sebagai berikut :

  • Sengketa tanah antara PT Pelindo II dengan ahli waris tanah di sekitar makam Mbah Priok dengan luas 5,4 hektar.
  • Tidak adanya mediasi yang dilakukan Satpol PP kepada warga sekitar ketika akan melakukan penertiban kompleks makam Mbah Priok
  • Tindakan emotional para warga kepada Satpol PP
  • Aksi dan reaksi Satpol PP yang kurang manusiawi

Ulasan Masalah

Kejadian ini merupakan kericuhan besar kedua kalinya dalam sejarah kasus Priok yang tak kunjung usai. Menurut info, PT Pelindo telah diberikan tanah seluas 4 Hektar dari total tanah yang ada dan Makam Mbah Priok atau Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad yang di keramatkan oleh masyarakat sekitar hanya mempunyai luas 20 meter persegi. Itupun, menurut pihak ahli waris dari Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad, belum adanya uang ganti rugi yang dibayari.

PT Pelindo belum cukup puas dengan keadaan yang ada, tanah tersebut ingin ditertibkan kembali sehingga mereka menggunakan Satpol PP untuk melakukan hal tersebut. Namun yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, terjadi bentrokan antara Satpol PP dengan warga Priok. Kericuhan sosial (social riots) ini dipicu dari ego arogansi aparatur penegak sipil Satpol PP yang lebih mengedepankan pendekatan represi dibanding komunikasi persuasi.

Warga belum tahu tentang upaya yang akan dilakukan Satpol PP, tidak adanya pemberitahuan sebelumnya. Warga yang tidak senang akan tindakan Satpol PP tersebut menjadi emosi dan terjadilah kericuhan. Warga pembela situs Mbak Priok yang di-back up ormas sosial keagamaan yang memiliki ikatan emosional kultural itu menjadi semakin emosi ketika tindakan kurang manusiawi Satpol PP yang semakin menjadi-jadi, memaksa untuk membongkar kompleks makam dari Mbah Priok, memukuli, dsb.

Terjadilah bentrokan berdarah yang disulut rencana pembongkaran makam tokoh karismatik ini memakan korban luka sedikitnya 134 orang dan 3 korban tewas dari pihak Satpol PP, kejadian itu berlangsung mencekam mulai dari pagi hingga malam hari. Korban tewas yang merupakan anggota Satpol PP ditemukan di terminal peti kemas Tanjung Priok dengan keadaan mengenaskan, dan korban luka – luka (luka ringan hingga luka berat) dari kedua belah pihak terjadi disepanjang kericuhan.

Dalam perspektif teori transformasi konflik, tragedi tersebut  bisa dianalisis dalam berbagai paradigma pemikiran: Pertama, tragedi tersebut adalah bagian dari spiral kekerasan sosial yang telah melembaga dalam kultur penegakan hukum dan kuasa aparatur negara. Spiral kekerasan yang mengkontaminasi perilaku balasan dari masyarakat yang selama ini menjadi objek kekerasan personel Satpol PP.
Secara sosiologis warga Priok adalah masyarakat pantai yang memiliki karakter sosial yang lugas dan keras. Ketika menerima praktik kekerasan maka mereka justru akan bangkit dalam tindakan yang sama. Kedua, tragedi itu merupakan mata rantai struktur paralel kekerasan yang lazim terjadi dalam implementasi dari domain penegakan aturan daerah dan ketertiban umum. Berbeda dari kekerasan terhadap elemen masyarakat yang tidak terorganisasi semacam PKL tidak resmi, pengamen, pemukim liar komunitas di Priok terorganisasi dalam kultur keagamaan militan. Para aktor yang melawan arogansi Satpol PP adalah komunitas ‘’santri” yang selama ini beraktivitas ritual-religi di lingkungan makam Mbah Priok. Mereka terusik kehormatan spiritualnya oleh rencana penggusuran makam figur yang mereka hormati.

Ketiga, social riots tersebut adalah bukti kegagalan negara dalam merombak karakter psikologis aparaturnya dalam alam demokrasi. Institusi Satpol PP di era demokrasi yang seharusnya lebih bisa memainkan peran sebagai penegak aturan sekaligus sebagai alat komunikasi masyarakat, menempatkan diri sebagai kekuatan antirakyat.

Selama ini memang ada keprihatinan atas apa yang sering dilakukan oleh ”Polisi Perda” di banyak tempat. Terutama ketika mereka berhadapan dengan masyarakat sipil. Satpol PP alih-alih memainkan peran mediasi, negoisasi prakonflik untuk menjelaskan tugas dan tujuan penertiban namun yang terjadi adalah peran eksekutor yang lebih dikedepankan.

Ada beberapa instrospeksi yang bisa dipetik dari kejadian dari tragedi Priok II. Pertama; sudah waktunya ada perubahan kultur kekerasan yang lazim dilakukan aparatur penegak hukum ketika bersinggungan dengan aspirasi serta kepentingan masyarakat. Kultur kekerasan hanya akan beranak-pinak praktik kekerasan yang sama, bahkan mungkin lebih keras. Perlu ada ruang edukasi transformasi konflik di jajaran penegak hukum agar mereka bisa memahami anatomi konflik sehingga tidak terjebak menjadi aktor penyulut konflik laten-manifes.

Kedua; menagih keseriusan pemerintah pusat-daerah untuk ‘’tidak asal’’ mementingkan syahwat ekonomi dan mengabaikan niat baik konservasi cagar budaya. Kasus itu tidak terjadi bila pemerintah daerah menghormati kawasan situs budaya. Makam Mbah Priok bagaimana pun adalah penanda peradaban Jakarta.

Ketiga; perlunya kesadaran bersama antara komponen ”pemilik” kepentingan terhadap cagar budaya yang memiliki ikatan religio-sosial, dengan pemerintah untuk dalam satu pemahaman mengedepankan dialog yang mutual partnership, ketika terjadi isu penggusuran, dan sebagainya. Sehingga tidak ada politisasi ataupun mobilisasi kepentingan dari kelompok luar.

Dampak :

Sepeti sudah diberitakan dalam media massa, kasus ini mengakibatkan tewasnya 3 anggota Satpol PP oleh warga sekitar serta ratusan orang luka-luka baik dari pihak Satpol PP maupun dari pihak warga Priok.

Kepercayaan masyarakat kepada aparatur pemerintah pun semakin menipis, citra aparatur pemerintah yang kian memburuk. Kejadian ini menunjukkan bahwa kurang adanya sikap manusiawi yang ditunjukkan oleh aparatur bangsa yang seharusnya melindungi warganya sendiri. Banyak masyarakat yang mempermasalahkan serta tidak sedikit pula yang meminta pemerintah untuk membubarkan Satpol PP.

Bukan hanya dampak dari segi sosial yang terlihat, segi ekonomi pun juga sangat terganggu. Kerusuhan ini berdampak besar terhadap industri. Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro memperkirakan, dalam sehari ketika kerusuhan itu terjadi, kerugian industri ekspor-impor mencapai puluhan miliar. “Kerugian untuk sektor angkutan saja bisa Rp 10 miliar,” kata Toto, (15/4/2010). Perhitungan kerugian ini didasarkan pada 6.000 kontainer yang datang dan pergi dalam sehari di Pelabuhan Tanjung Priok. Angka ini belum menghitung barang yang tidak bisa masuk dan keluar pelabuhan. Kerugian paling besar adalah akibat keterlambatan pengiriman barang ekspor.

Selain itu, Ketua Umum Perusahaan Angkutan Pelayaran Niaga Nasional (Indonesia National Shi-powners Association/INSA) Johnson W. Sutjipto mengkhawatirkan kerusuhan itu akan menyebabkan naiknya premi asuransi kapal yang masuk ke pelabuhan. “Saat ini Pelabuhan Tanjung Priok sudah dikategorikan pelabuhan yang berisiko,” katanya. Joint War Committee (JWC), organisasi pengidentifikasi layanan dan keamanan pelabuhan dunia yang bermarkas di London, memasukkan Tanjung Priok sebagai pelabuhan rawan dan berisiko terhadap kerusuhan atau bentuk lain. Dengan demikian, pemilik kapal harus membayar premi asuransi 0,00125% dari nilai kapal.

Hingga kemarin, akses jalan menuju TPK (Terminal Petikemas) Koja masih belum bisa dilewati truk kontainer karena terhalang bangkai-bangkai mobil yang dibakar massa. Tapi, manajemen TPK Koja tetap mengoperasikan bongkar muat barang. Menurut Doso Agung, General Manager TPK Koja, potensi kerugian yang dialami TPK Koja minimal Rp 2 miliar karena berhentinya kegiatan operasi selama sehari penuh pada saat kerusuhan terjadi.

Dari pihak lain, HIPMI (Himpinan Pengusaha Muda Indonesia) mengingatkan, Indonesia saat ini sedang mempersiapkan diri menghadapi persaingan perdagangan dalam konteks Asean China Free Trade Agreement (ACFTA). Selain membutuhkan ketersediaan infrastruktur, faktor kenyamanan, keamanan dan keberlanjutan (sustainable) bagi aktivitas bongkar-muat di pelabuhan juga sangat dibutuhkan. “Yang kita khawatirkan rating pelabuhan kita melorot gara-gara dianggap tidak aman dan sering rusuh. Ini membuat nilai asuransi kapal-kapal yang masuk jadi tinggi dan akan membuat daya saing biaya pelabuhan kita melemah,” tambah Harry, Ketua Bidang Perdagangan Luar Negeri HIPMI. Citra layanan perdagangan internasional Indonesia juga akan dengan mudah tercoreng sebab pelabuhan internasional merupakan simbol kekuatan ekonomi suatu negara.  Harry mengutarakan, keamanan wilayah pelabuhan internasional harus sesuai standar internasional dan menjadi restricted area.

Sedangkan Menteri Negara Mustafa Abubakar menyatakan tidak ada kerugian yang diderita oleh pihak Pelindo. “Saya sudah terima laporan, tak ada peralatan Pelindo yang terganggu,” katanya.

Dari data di atas dapat dilihat bahwa kericuhan ini memberikan dampak yang sangat besar, bukan hanya dampak sosial melainkan juga dampak ekonomi yang keduanya meluas ke seluruh Indonesia bahkan ke dunia international..

Rekomendasi Penyelesaian

Penyelesaian kasus Priok ini perlu kerjasama berbagai pihak. Perlu ada pertemuan khusus antara pihak-pihak terkait untuk membicarakan persoalan yang terjadi serta musyawarah untuk mencapai suatu kesepakatan bersama tanpa ada pihak yang merasa dirugikan. Langkah – langkah yang dilakukan :

  1. Menghentikan proses eksekusi. Hal ini dilakukan agar dapat meredam pertikaian antara warga dengan Satpol PP.
  2. Pemerintah (khususnya DKI Jakarta) memberikan bantuan perawatan bagi para korban bentrokan Priok sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap warga.
  3. Mengidentifikasi secara mendalam masalah yang sebenarnya terjadi, tanpa menyalahkan pihak manapun atau mencari siapa yang benar atau salah.
  4. Merangkul para tokoh masyarakat dan pemuka agama agar berperan positif ,turut meredam pihak yang bertikai serta meberikan masukan positif kepada pemerintah mengenai penyelesaian masalah ini.
  5. Aparat kepolisian perlu bekerjasama mengamankan lokasi agar tidak timbul insiden baru.
  6. Transparansi pemerintah DKI Jakarta terkait status tanah sengketa kepada warga. Jangan ada keputusan yang dibuat tanpa disosialisasikan kepada warga.
  7. Bekerjasama dengan media massa untuk memberikan informasi yang gamblang dan jelas tanpa memihak.

Kasus ini perlu ditangani secara serius. Jangan sampai nasibnya ”mengggantung” begitu saja. Harus ada titik temu untuk pencapaian win-win solution. Perlu digelar pertemuan antara warga, ahli waris makam mbah Priok, pihak PT Pellindo serta pemprov DKI Jakarta. Perlu ada musyawarah bersama untuk mencapai kesepakatan akhir penyelesaian masalah Priok.

Warga tidak bisa dengan mudah menyerah begitu saja karena mereka merasa makam mbah Priok adalah leluhur yang berjasa di daerah mereka. Mereka merasa perlu menjaga dan melestarikan makam tersebut sebagai tempat ziarah dan menggelar doa bersama. Sedangkan PT Pellindo juga tidak bisa memaksa warga atau melakukan eksekusi paksa tanpa ada perundingan sebelumnya. Pemprov Jakarta juga perlu hadir dalam musyawarah ini dan berfungsi sebagai penengah karena ketertiban wilayah Jakarta adalah tanggung jawab pemerintah beserta aparat terkait.

Win-win Solution bagi masalah ini adalah :

  1. Makam Mbah Priok dijadikan cagar budaya dengan dikuatkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta.
  2. Makam hingga pintu gerbang makan tidak dibongkar. Beri anggaran dana pemerintah dan PT Pellindo bagi perawatan makam sebagai rasa tanggung jawab bersama.
  3. Persoalan tanah seluas 5,4 hektar yang dipertikaikan ahli waris dan PT Pelindo agar diselesaikan secara kekeluargaan. Tanpa ada bentrok dan aksi anarkis. Beri ganti rugi yang sesuai. Ahli waris berhak memperoleh apa yang menjadi haknya.
  4. Ciptakan iklim komunikasi yang baik antara berbagai pihak terkait agar dapat terjalin hubungan baik serta kekeluargaan, pergunakan media untuk mensosialisasikannya

local wisdom in our country

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau baik berpenghuni atau pun tidak berpenghuni, dilintasi garis khatulistiwa, berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Wilayah yang cukup luas dengan keberagaman kekayaan alam membuat Indonesia memiliki beragam suku bangsa, beragam kepercayaan, beragam adap adat istiadat serta beragam kebudayaan yang semuanya bergabung menjadi satu, Bhineka Tungal Ika (berbeda-beda tetapi satu jua).

Kebudayaan yang beranekaragam itu mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, menjadi pedoman bagi mereka. Tiap daerah mempunyai kebudayaannya masing-masing, mempunyai kebijakan dan kearifan yang berbeda-beda.

Kearifan lokal atau yang lebih dikenal dengan sebutan local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Ciri kearifan lokal yang berporos pada proses sebuah kebaikan ketimbang aplikasi semata menjadikannya sangat jauh dari hal yang instan sehingga menjadi cermin budaya bagi masyarakatnya, menjadi akar dalam pedoman kehidupan yang turun temurun, menjadi warisan bangsa.

Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, semua suku mempunyai kearifan lokalnya masing-masing.

Namun kini zaman kian berubah, era globalisasi dan modernisasi memasuki semua negara termasuk Indonesia, budaya lokal mulai kian tergerus arus. Masyarakat muda yang yang diharapkan menjadi penerus warisan bangsa terlihat acuh tak acuh, seperti tidak adanya kepedulian dalam pelestarian budaya tersebut.

Kehadiran budaya modernisasi memang tak bisa lagi dibendung sebagai konsekuensi logis dari kehadiran arus globalisasi. Mau tak mau memang harus berhadapan dengan budaya ini, bahkan tanpa terasa sudah masuk ke dalamnya sehingga terkadang terjadi pembenturan antara kedua budaya yang berhadapan yaitu budaya barat dengan budaya tradisional Indonesia yang oleh penghayatnya masih dipandang sebagai kebudayaan spiritual dan kebudayaan filosofis. Tidak berlebihan jika budaya modern banyak menciptakan kerugian-kerugian terutama pada hal yang bersifat normatif dalam budaya lokal seperti makanan-makanan instan tiap harinya, pakaian minim yang berporos pada budaya barat, bahkan ideologi berpikir kesenangan sementara (hedonisme) sering terlihat dalam ruang lingkup sosial.

Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia, yakni perubahan dari mental simpatik menjadi antipatif, dari nilai-nilai yang dihayati menjadi sebuah beban perkembangan zaman. Lebih mengkhawatirkan lagi, masyarakat muda lebih berkiblat kepada budaya yang datangnya dari luar, entah itu baik atau buruk yang penting dapat dianggap sebagai manusia modern yang menjunjung globalisasi. Misalnya saja setiap hari masyarakat disuguhi tanyangan TV yang bersumber dari negara maju seperti Amerika, belum lagi siaran TV international. Yang menjadi pertanyaan adalah kapan budaya serta kesenian Indonesia terlihat dan muncul di dalamnya? Mereka lebih suka melihat video klip artis mancanegara yang seksi dan energic dibandingkan untuk menonton keroncong atau gamelan jawa.

Banyakkah dari masyarakat yang masih membaca cerita daerah lutung kasarung? Atau pelesarian komodo?? Yang ditemukan sekarang ini adalah mereka yang candu dengan majalah fashion artist, produk luar negeri dengan brand yang berkualitas, atau sekedar komik serial cantik. Fakta yang demikian memberikan bukti bahwa negara-negara lain lebih berhasil memasarkan budaya mereka sendiri dibanding Indonesia.

Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khazanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Di saat bangsa lain maju dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, masyarakat muda Indonesia harusnya memanfaatkan potensi yang ada, misalnya sebagai negara yang “pandai-pandai” melestarikan budaya.

Bukan hanya dari segi kesenian, segi kearifan lokal juga semakin tergusur. Jarang sekali kini bisa ditemukan anak muda di kota besar yang membantu nenek untuk menyeberang jalan, atau hanya sekedar senyum ketika bertemu orang yang lebih tua, cium tangan orangtua pun semakin ditinggalkan.

Peristiwa transformasi seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap budaya yang menjadi identitas bangsa. Pergeseran tingkahlaku, pola pikir, pola berpakaian, dan sebagainya mempengaruhi eksistensi kearifan lokal.

Perkembangan zaman berbanding lurus dengan perkembangan permasalan. Executive Director International Center For Islam and Pluralism (ICIP), Dr M Syafi’i Anwar mengatakan, untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di berbagai daerah harus dengan local wisdom (kearifan lokal), sehingga konflik benar-benar selesai sampai di kalangan bawah. “Dengan local wisdom konflik dapat diselesaikan secara mendasar, karena keluar dari hati yang tulus,” paparnya.

Selain itu, Rektor UGM Prof Sudjarwadi menilai, sejatinya banyak kearifan lokal (local wisdom) Indonesia yang mampu dijadikan sebagai solusi berbagai persoalan. Hanya, masalahnya banyak local wisdom yang belum tersentuh para akademisi. Inilah yang membuat interpretasi kearifan lokal di Indonesia tidak jelas aplikasinya. Saat ini, perlu dibentuk tatanan baru termasuk di kalangan generasi muda dan kaum terdidik untuk bersama-sama menggandengkan kearifan lokal dengan dunia dalam rangka mengatasi berbagai persoalan manusia. Sehingga keharmonisan bisa terwujud dan konflik pun dapat teratasi.

Namun sayangnya, masyarakat muda mempunyai asumsi yang mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan traditional yang tidak cocok lagi diterapkan mada zaman modernisasi ini, mereka lebih memilih untuk menggunakan cara modern. Musyawarah mufakat yang masih terlihat di gedung DPR MPR tidak terlihat di kehidupan sehai-hari. Kaum muda lebih berpedoman kepada kelompok mayoritas dan minoritas, mayoritas yang punya harta kuasa dan tahta lah yang menang sedangkan minoritas hanya ikut di belakang.

Penggunaan bahasa-bahasa gaul semakin merajalela, masyarakat muda bangga menggunakan tutur bahasa “jakarta” meskipun mereka sedang berada dii pedalaman kalimantan. Nilai-nilai kearifan lokal seperti dimana bumi dipijak disitu langit dijunjng seperti hanya tinggal kata, nilai yang terkandung di dalamnya menguap oleh waktu. Tidak dapat ditemukan lagi senyum ramah di masyarakat muda kota besar, yang ada hanyalah tatapan dingin  tanpa ekspresi atau terkadang tidak dipandang sedikitpun oleh mereka.

Jika kondisi demikian masih berlanjut, anak cucu Indonesia mungkin akan kehilangan identitas bangsanya sendiri.

Hal inilah yang menarik perhatian penulis untuk diteliti lebih dalam. Bagaimana pengungkapan jujur masyarakat muda Indonesia tentang perubahan zaman dan perubahan budaya yang terjadi, apakah mereka masih peduli dan akan lebih peduli dengan kearifan lokal yang dijunjung tinggi dalam kebudayaan Indonesia?? Untuk mengetahui itu semua penulis berusaha menjabarkannya dalam karya tulis ilmiah berjudul “Implementasi Kearifan Lokal dalam Masyarakat Muda Indonesia demi Pelestarian Budaya Bangsa”.

A. Kebudayaan Indonesia serta Kearifan Lokal yang Terkandung di dalamnya

Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan, pengalaman serta menjadi pedoman dalam berprilaku. Kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat yang akan diberikan secara turun temurun.

Kebudayaan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Indonesia merupakan negara kepualauan yang sangat luas, hal ini lah yang membuatnya memiliki banyak kebudayaan. Beda pulau beda kepercayaan, beda daerah beda adat istiadat. Bahasa jawa berbeda dengan bahasa papua, kepercayaan masyarakat sumatra berbeda denga kepercayaan masyarakat nusa tenggara.

Perbedaan inilah yang membuat masyarakatnya mempunyai istilah budaya lokal, yaitu budaya yang hanya dimiliki masyarakat setempat, kearifan lokal juga termasuk di dalamnya.

Secara umum local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Istilah local wisdom (kearifan lokal) mempunyai arti yang sangat mendalam. Banyak ungkapan dan perilaku yang bermuatan nilai luhur, penuh kearifan, muncul di komunitas lokal sebagai upaya dalam menyikapi permasalahan kehidupan yang dapat dipastikan akan dialami oleh masyarakat tersebut. Realita ini muncul ke permukaan karena tidak adanya solusi global yang dapat membantu memberikan jawaban terhadap segala kejadian yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.

Faktor ke-terlibatan para pendahulu, nenek moyang, yang mewariskan tradisi tersebut kepada generasi berikutnya menjadi sangat penting bagi terjaganya kearifan tersebut.

I Ketut Gobyah dalam “Berpijak pada Kearifan Lokal” dalam http://www.balipos.co.id, didownload 17/9/2003, mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan local merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.

S. Swarsi Geriya dalam “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali” dalam Iun, http://www.balipos.co.id mengatakan bahwa secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan melembaga.

Balipos terbitan 4 September 2003 memuat tulisan “Pola Perilaku Orang Bali Merujuk Unsur Tradisi”, antara lain memberikan informasi tentang beberapa fungsi dan makna kearifan lokal, yaitu:

  1. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.
  2. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate.
  3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan, misalnya pada upacara saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura Panji.
  4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan.
  5. Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.
  6. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.
  7. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan penyucian roh leluhur.
  8. Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron client

Dalam masyarakat kita, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari. Beberapa kearifan lokal terdapat di beberapa daerah:

  1. Papua, terdapat kepercayaan te aro neweak lako (alam adalah aku). Gunung Erstberg dan Grasberg dipercaya sebagai kepala mama, tanah dianggap sebagai bagian dari hidup manusia. Dengan demikian maka pemanfaatan sumber daya alam secara hati-hati.
  2. Serawai, Bengkulu, terdapat keyakinan celako kumali. Kelestarian lingkungan terwujud dari kuatnya keyakinan ini yaitu tata nilai tabu dalam berladang dan tradisi tanam tanjak.
  3. Dayak Kenyah, Kalimantan Timur, terdapat tradisi tana‘ ulen. Kawasan hutan dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat. Pengelolaan tanah diatur dan dilindungi oleh aturan adat.
  4. Masyarakat Undau Mau, Kalimantan Barat. Masyarakat ini mengembangkan kearifan lingkungan dalam pola penataan ruang pemukiman, dengan mengklasifikasi hutan dan memanfaatkannya. Perladangan dilakukan dengan rotasi dengan menetapkan masa bera, dan mereka mengenal tabu sehingga penggunaan teknologi dibatasi pada teknologi pertanian sederhana dan ramah lingkungan.
  5. Masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, Kampung Dukuh Jawa Barat. Mereka mengenal upacara tradisional, mitos, tabu, sehingga pemanfaatan hutan hati-hati. Tidak diperbolehkan eksploitasi kecuali atas ijin sesepuh adat.
  6. Bali dan Lombok, masyarakat mempunyai awig-awig. Kerifan lokal merupakan suatu gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat, berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat dari yang sifatnya berkaitan dengan kehidupan yang sakral sampai yang profan.

Teezzi, Marchettini, dan Rosini mengatakan bahwa kemunculan kearifan lokal dalam masyarakat merupakan hasil dari proses trial and error dari berbagai macam pengetahuan empiris maupun non-empiris atau yang estetik maupun intuitif. Kearifan lokal lebih menggambarkan satu fenomena spesifik yang biasanya akan menjadi ciri khas komunitas kelompok tersebut, misalnya alon-alon asal klakon (masyarakat Jawa Tengah), rawe-rawe rantas malang-malang putung (masyarakat Jawa Timur), ikhlas kiai-ne manfaat ilmu-ne, patuh guru-ne barokah urip-e (masyarakat pesantren), dan sebagainya.

Dalam dunia yang kian berkembang, kearifan lokal tersebut masih tetap bisa diimplementasikan, contohnya saja :

  1. Alon-alon watone kelakon ungkapan Jawa ini sering diterjemahkan “Biar Lambat Asal Selamat” Kesan yang dimunculkan adalah kelambanan. Meskipun ada benarnya tapi rasanya kurang tepat penerjemahannya. Lebih tepat kalau diartikan demikian: “Pelan-pelan yang penting terlaksana”.  Hal ini mengandung pengertian tidak grasah-grusuh (terburu-buru gak karuan), kehati-hatian dan dipikirkan dan dipertimbangkan masak-masak sebelum bertindak, agar tidak menyesal di kemudian hari. Cara bertindak pun dipikirkan dengan cermat, kesabaran kadang lebih utama. Untuk mendapatkan ayam tentunya harus dengan menetaskan telur yang butuh waktu, bukan dengan memecahkannya.  Disinilah sikap yang luwes dan fleksibel diperlukan.
  2. Menang tanpa ngasorake (Menang tanpa harus merendahkan) atau lengkapnya demikian : Sugih tanpa bandha, Nglurug tanpa bala, sekti tanpa aji, menang datan (tanpa) ngasorake. Diterjemahkan : Kaya tanpa harta, maju ke medan pertempuran tanpa bala tentara atau mengerahkan massa, sakti atau mempunyai kekuatan/power tanpa harus mengandalkan kekuatan dan kekuasaannya, dan dapat memenangkan perkara tanpa harus merendahkan atau melecehkan orang lain.  Menghargai dan menjaga jangan sampai melukai batin orang lain lebih diutamakan. Karena tidak seorangpun suka direndahkan.  Fokus utamanya adalah penyelesaian masalah, bukan merasa menang telah mengkritik habis-habisan orang lain, sampai orang merasa tidak punya muka lagi.  Bukan begitu menjadi manusia yang utama, tapi tetap rendah hati.  Cukup disimpan dalam hati, jangan merendahkan orang lain.  Karena bisa jadi suatu saat kita pun dalam kondisi seperti orang yang kita rendahkan.  Justru dengan kerendahan hati bisa semakin dihargai dan dapat memenangkan perkara tanpa harus ada yang terluka. Hal ini termasuk juga teknik menguasai massa.
  3. Ngono ya ngono ning mbok ya aja ngono, (begitu ya begitu tapi yahh…jangan begitulah).  Maksudnya adalah jangan mentang-mentang.  Mungkin sedang dalam posisi yang benar, tapi jangan mentang-mentang benar terus seenaknya, tidak menghargai orang lain. Tetap rendah rendah hati, terima kekurangan orang lain.  Tidak semua hal layak diperdebatkan, apalagi sampai mempermalukan orang lain.  Memang kadang ini tidak mengenakkan tapi apakah kemudian puas setelah melecehkan orang?
  4. Tut wuri handayani (di delakang mampu memberikan dorongan, motivasi, inspirasi dan hal-hal yang berguna untuk orang yang kita kasihi).  Lengkapnya, Dhuwur tan ngungkuli, banter tan mbancangi, tut wuri handayani.  Artinya: Tinggi tanpa harus melebihi atau mengungguli atasan atau orang yang dihormati dan segani, cepat tanpa harus ngribetin apalagi sampai menjegal orang yang berjalan di depan baik itu  atasan ataupun rekan sejawat, dan dibelakang tetap sebagai orang yang sangat berarti karena mampu memberikan dorongan, motivasi dan dukungan dengan sepenuh hati.  Intinya adalah bisa menempatkan diri.  Tahu posisi, tahu bersikap, tahu menghargai. Tidak harus menjadi nomor satu untuk dihormati dan disegani.  Semar hanyalah seorang punakawan/ abdi/pembantu tapi semua raja tunduk pada nasehatnya.  Dan seorang semar tidak perlu menyombongkan diri.  Pribadi utamanya itu yang dihargai.  Emas tidak perlu berkoar-koar mengiklankan diri bahwa ia emas.  Sekalipun dalam lumpur orang tahu itu emas.  Dan emas itu berharga.
  5. Kotapraja Palangka Raya misalnya, mempunyai motto : « Isen Mulang » (Pantang Mundur, Tak Pulang Jika Tak Menang), Pulang Pisau mengangkat motto « Handep Hapakat » (Persatuan dan Kesatuan Semua Komponen Masyarakat atau Gotong Royong)

B. Masyarakat Muda Indonesia di Era Modernisasi

Pada umumnya para pakar sepakat bahwa ciri utama yang melatarbelakangi sistem atau model manapun dari suatu masyarakat modern, adalah derajat rasionalitas yang tinggi dalam arti bahwa kegiatan-kegiatan dalam masyarakat demikian terselenggara berdasarkan nilai-nilai dan dalam pola-pola yang objektif (impersonal) dan efektif (utilitarian), ketimbang yang sifatnya primordial, seremonial atau tradisional.

Derajat rasionalitas yang tinggi itu digerakkan oleh perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali disebut sebagai kekuatan pendorong (driving force) bagi proses modernisasi. Dengan derajat rasionalitas yang tinggi itu, maka berkembang antara lain ciri-ciri yang kurang lebih berlaku umum, seperti masyarakat modern adalah masyarakat yang senantiasa berubah cepat, bahkan perubahan itu melembaga. Ada ciri-ciri yang nyata dalam masyarakat modern, yaitu:

  1. Sebagian besar anggota masyarakat berada pada lapisan menengah; lapisan atas dan bawah adalah minoritas. Pada masyarakat tradisional dan pramodern, sebagian besar masyarakat berada di lapisan bawah.
  2. Dalam masyarakat modern tidak tampak batas pemisah (diskontinuitas), tetapi stratanya lebih bersifat suatu kontinuum. Dalam masyarakat tradisional pembatas antarstrata sangat tegas, bahkan acapkali tabu atau ada sangsi bagi yang melewati batas itu.
  3. Dalam masyarakat modern mobilitas sosial tinggi baik ke atas, maupun ke bawah. Sebaliknya dalam masyarakat tradisional mobilitas itu rendah, yang di bawah betapa pun potensinya tetap di bawah, dan yang di atas betapa pun rendah kemampuannya tetap berada di atas.
  4. Dalam masyarakat modern, pandangan keadilan, kesamaan hak dan kewajiban menjadi kredo, yang berarti juga kesamaan kesempatan.

Menurut para ahli kebudayaan modern dibedakan menjadi tiga macam yaitu:

1. Kebudayaan Teknologi Modern

Kebudayaan Teknologis Modern merupakan anak Kebudayaan Barat. Kebudayaan Tekonologis Modern merupakan sesuatu yang kompleks. Penyataan-penyataan simplistik, begitu pula penilaian-penilaian hitam putih hanya akan menunjukkan kekurangcanggihan pikiran. Kebudayaan itu kelihatan bukan hanya dalam sains dan teknologi, melainkan dalam kedudukan dominan yang diambil oleh hasil-hasil sains dan teknologi dalam hidup masyarakat : media komunikasi, sarana mobilitas fisik dan angkutan, segala macam peralatan rumah tangga serta persenjataan modern. Hampir semua produk kebutuhan hidup sehari-hari sudah melibatkan teknologi modern dalam pembuatannya.

Kebudayaan Teknologis Modern itu kontradiktif. Dalam arti tertentu dia bebas nilai, netral. Bisa dipakai atau tidak. Pemakaiannya tidak mempunyai implikasi ideologis atau keagamaan. Seorang Sekularis dan Ateis, Kristen Liberal, Budhis, Islam Modernis atau Islam Fundamentalis, bahkan segala macam aliran New Age dan para normal dapat dan mau memakainya, tanpa mengkompromikan keyakinan atau kepercayaan mereka masing-masing. Kebudayaan Teknologis Modern secara mencolok bersifat instumental.

2. Kebudayaan Modern Tiruan

Terwujud dalam lingkungan yang tampaknya mencerminkan kegemerlapan teknologi tinggi dan kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriah saja, misalnya kebudayaan lapangan terbang internasional, kebudayaan supermarket (mall), dan kebudayaan Kentucky Fried Chicken (KFC).

Di lapangan terbang internasional orang dikelilingi oleh hasil teknologi tinggi, ia bergerak dalam dunia buatan: tangga berjalan, duty free shop dengan tawaran hal-hal yang kelihatan mentereng dan modern, meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan, suasana non-real kabin pesawat terbang; semuanya artifisial, semuanya di seluruh dunia sama, tak ada hubungan batin.

Kebudayaan Modern Tiruan hidup dari ilusi, bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil teknologi modern, ia menjadi manusia modern. Padahal dunia artifisial itu tidak menyumbangkan sesuatu apapun terhadap identitas kita. Identitas seseorang menjadi semakin kosong karena semakin membiarkan diri dikemudikan. Selera, kelakuan, pilihan pakaian, rasa kagum dan penilaian semakin dimanipulasi, semakin tidak memiliki diri sendiri. Itulah sebabnya kebudayaan ini tidak nyata, melainkan tiruan, blasteran.

Anak Kebudayaan Modern Tiruan ini adalah Konsumerisme: orang ketagihan membeli, bukan karena membutuhkan, atau ingin menikmati apa yang dibeli, melainkan demi membelinya sendiri. Kebudayaan Modern Blateran ini, bahkan membuat hilangnya kemampuan untuk menikmati sesuatu dengan sungguh-sungguh. Konsumerisme berarti ingin memiliki sesuatu, akan tetapi semakin tidak mampu lagi menikmatinya. Orang makan di KFC bukan karena ayam di situ lebih enak rasanya, melainkan karena fast food dianggap gayanya manusia yang trendy, dan trendy adalah modern.

3. Kebudayaan-Kebudayaan Barat

Masyarakat keliru apabila budaya blastern disamakan dengan Kebudayaan Barat Modern. Kebudayaan Blastern itu memang produk Kebudayaan Barat, tetapi bukan hatinya, bukan pusatnya dan bukan kunci vitalitasnya. Ia mengancam Kebudayaan Barat, seperti ia mengancam identitas kebudayaan lain, akan tetapi ia belum mencaploknya. Italia, Perancis, spayol, Jerman, bahkan barangkali juga Amerika Serikat masih mempertahankan kebudayaan khas mereka masing-masing. Meskipun di mana-mana orang minum Coca Cola, kebudayaan itu belum menjadi Kebudayaan Coca Cola.

Orang yang sekadar tersenggol sedikit dengan kebudayaan Barat palsu itu, dengan demikian belum mesti menjadi orang modern. Ia juga belum akan mengerti bagaimana orang Barat menilai, apa cita-citanya tentang pergaulan, apa selera estetik dan cita rasanya, apakah keyakinan-keyakinan moral dan religiusnya, apakah paham tanggung jawabnya (Suseno; 1992)

Masyarakat modern adalah masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban masa kini. Kebiasaan dari masyarakat modern adalah mencari hal-hal mudah, sehingga penggabungan nilai-nilai lama dengan kebudayaan birokrasi modern diarahkan untuk kenikmatan pribadi. Sehingga, munculah praktek-peraktek kotor seperti nepotisme, korupsi, yang menyebabkan penampilan mutu yang amat rendah.

Proses akulturasi di Negara-negara berkembang tampaknya beralir secara simpang siur, dipercepat oleh usul-usul radikal, dihambat oleh aliran kolot, tersesat dalam ideologi-ideologi, tetapi pada dasarnya dilihat arah induk yang lurus: ”the things of humanity all humanity enjoys”. Terdapatlah arus pokok yang dengan spontan menerima unsur-unsur kebudayaan internasional yang jelas menguntungkan secara positif. Akan tetapi pada refleksi dan dalam usaha merumuskannya kerap kali timbul reaksi, karena kategori berpikir belum mendamaikan diri dengan suasana baru atau penataran asing.

Taraf-taraf akulturasi dengan kebudayaan Barat pada permulaan masih dapat diperbedakan, kemudian menjadi overlapping satu kepada yang lain sampai pluralitas, taraf, tingkat dan aliran timbul yang serentak. Kebudayaan Barat mempengaruhi masyarakat Indonesia, lapis demi lapis, makin lama makin luas lagi dalam (Bakker; 1984).

Kebudayaan modern serta akulturasinya lah yang terjadi pada kalangan muda modern Indonesia, mereka mengikuti begitu saja apa yang mereka dapatkan. Tiada penyaringan yang dilakukan secara komprehensif.

Media yang menjadi sarana utama penyebaran tentang informasi tersebut turut berperan aktif dalam pembentukan karakteristik masyarakat muda modern Indonesia. Beberapa karakteristik yang dapat disimpulkan berdasarkan penelitian adalah :

  1. tingkat konsumeritas yang tinggi
  2. perhatian yang tinggi akan sesuatu yang baru saja terjadi terutama dalam bidang peminatan mereka seperti remaja putri yang selalu up to date akan artis idolanya, atau remaja putra yang selalu tahu perkembangan liga champion
  3. mempunyai komunitasnya masing-masing serta saling menghabiskan waktu bersama dengan komunitasnya sehingga terkadang membatasi pertemanan mereka sendiri
  4. menggunakan bahasa gaul seperti bangga menggunakan logat “jakarta” yaitu “gw elo” meskipun sedang berada di pedalaman desa
  5. menganut budaya barat, cenderung ke arah yang negatif
  6. cenderung berpakaian yang glamour, mewah dan tiru meniru budaya barat. fasionable
  7. harga diri yang terlalu tinggi terkadang kurang relevan dengan kehidupan sebanarnya
  8. individualitas yang terkadang menjurus ke apatismese
  9. beberapa dari mereka menjadi priadi yang arogan

10.  tingkat keacuhan dan ketidakpekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya

11.  berwawasan luas

C. Kearifan Lokal di Mata Masyarakat Muda serta Pengimplementasiannya dalam Kehidupan Sehai-hari

Mengapa beberapa penyiar radio muda di kota-kota di jawa tengah menggunaakan bahasa “jakarta” dalam siarannya? Bukan saja bahasa Indonesia, namun bahasa “jakarta ” dimana kalimat serta kata yang digunakan lebih kepada budaya popular, budaya westernisasi. Pengungkapan “gw elo” sebagai pengganti “aku kamu” atau “aku koe” atau “kulo panjenengan” mulai di temui dimana-mana. Kearifan lokal “dimana bumi dipijak di situ langit di junjung” sudah tidak begitu digunakan lagi dalam dunia anak muda. Masyarakat muda dengan banggganya mengikuti “gaya jakarta” tanpa pemikiran yang lebih dalam. Ketika hal ini sudah dilakukan sejak dini, apa yang terjadi? Kebudayaan asli akan terpinggirkan dengan sendirinya, nantinya berujung pada kemusnahan.

Pemuda di Kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta semakin tidak peduli terhadap orang yang lebih tua. Hal ini terlihat jelas ketika tidak ada lagi kearifan lokal “tegur sapa” yang umumnya dijunjung tinggi oleh budaya bangsa. Bertemu dengan orang lebih tua yang dikenal bukan senyum yang diumbar melainkan tatapan hambar tanpa respon atau bahkan melengos tanda tidak peduli. Terkadang sikap apatis pun tidak ragu dimunculkannya.

Kurangnya pengimplementasian “gotong royong” masyarakat muda yang semakin modern dikarenakan individualistis yang kian menonjol. Ketika individualis digunakan dalam konsep yang baik seperti tidak harus tergantung teman untuk mengerjakan tugas, itu menjdi sebuah kemajuan bangsa, namun ketika individualistis itu diusung sangat tinggi bisa menguras habis budaya lokal menjadi tidak peduli terhadap lingkungan sekitar yang nantinya dapat menjurus pada apatis, tidak adanya lagi simpati bahkan empati terhadap sesama manusia, keinginan dan kebutuhan pribadi menjadi raja di atas segalannya.

Pernyataan-pernyataan di atas dikuatkan oleh hasil wawancara secara mendalam yang dilakukan terhadap beberapa pihak bersangkutan yaitu masyarakat muda Indonesia usia 17 hingga 25 tahun baik laki-laki maupun perempuan yang berasal dari suku bangsa yang berbeda-beda.

Wawancara yang ditujukan kepada kaum muda Ibu Kota Indonesia menghasilkan kesimpulan yang memperlihatkan bahwa mereka tidak tahu apa itu kearifan lokal sehingga tidak tahu apakah sudah atau belum mengaolikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kebudayaan yang mereka tahu pun cukup minim, ketika ditanya “kamu tahu apa itu tanjidor? “ beberapa menjawab “iya, budaya betawi dalam upacara perkawinan”. Kamu tahu berapa orangnya? Alat-alatnya apa saja?? Dan sebagainya, mereka hanya bisa diam terpaku. Inti dai budaya itu adalah kenapa ada tanjidoran? apa yang di maknai dari tanjidoran? kenapa jumalah nya sekian orang? Makna dari itu apa? , bukan hanya tahu dan sudah. Budaya itu sebenr nya lebih cenderung kepada kenapa? bukan apa dan dimana karena anak muda akn menjadi pewarisnya, bukan menjadi tour guide untuk turis-turis.

Pernyataan mereka tentang lingkungan sekitarnya yang juga kurang peduli tentang kearifan lokal memperlihatkan betapa budaya luar telah berhasil mengubah pemkiran mereka tentang budaya itu sendiri.

Sebagai contoh jika dikasih pedang, orang barat akan lebih terfokus pada bagaimana menggunakan itu sebaik-baiknya untuk bertahan atau membunuh. Pedang adalah pedang. Namun jika kalo pedang itu diberikan kepada masyarakat budaya tiur budaya Indonesia adalah perlambang, pedang yang tidak dikeluarkan pun sudah bisa membuat orang takut. Alasan-alasan kenapa pedang itu adalah yang menjadi ulasan dalam sebuah kebudayaan.

Cara pengungkapan mereka yang lugas serta penggambaran mereka tentang masyarakat muda di kehidupan mereka semakin menunjukkan bahwa jika hal ini dibiarkan berlanjut, identitas mereka sebaagai masyarakat Indonesia akan hilang.

Bukan hanya di Ibukota, masyarakat muda di berbagai kota yang tersebar di Indonesia juga tidak jauh beda, pengungkapan mereka yang seadanya seperti menandakan bahwa tidak ada lagi yang ingin ereka sampaika kepada penulis selain pemikiran kosong tanpa pemikiran panjang tentang hal yang dipertanyakan. Dari cara seperti itu dapat dilihat bagaimana budaya lain berhasil mengubah cara bersikap bertingkah laku seseorang.

Mereka mengakui lebih suka berpakaian dress saat ke pesta daripada menggunakan kebaya, lebih suka pura-pura tidak kenal daripada ditanya ini itu oleh orang lebih tua yang mereka jumpai di jalan atau setidaknya senyum lalu pergi menghilang. Penggunaan bahasa logat “jakarta” dilakukan demi terkesan gaul serta modern.

Namun tetap diantara mereka yang peduli serta ingin tetap berbakti demi lestarinya budaya bangsa. Keluarga menjadi faktor utama dari pengetahuan mereka tentang kearifan lokal, selanjutnya disusul oleh ekola serta lingkungan dimana mereka dibesarkan. Adat jawa untuk menjunjung tinggi martabat keluarga masih tetap dilaksanakan dengan baik, bersikap ramah kepada semua orang tetap menjadi kebiasaan, bersikap sopan dan saling menghargai pendapat orang lain juga tetap mereka pegang teguh.

Yang diharapkan adalah ketika masyarakat muda Indonesia peduli dan turut melakukan kearifan lokal tersebut, seperti tahu bagaimana caranya bertingkah laku dan bagaimana menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di lingkungannya dengan berasas pada kearifan atau kebijakan setempat sehingga nantinya masalah terselesaikan sampai ke akar serta budaya itu tetap terlestarikan.

titikjenuh

gw lagi dipuncak nih,

puncak titik jenuh.

jenuh dgn suasana semarang, jenuh dgn tugas2 gw, jenuh dgn temen2gw, jenuh sm kos gw, jenuh .

serius we, gw cape sm lo, lo gbs ngerti sdkt pun ato gmn si? g ngefek tauga, ada ky gda, py ky gpunya, malah lebih parah bikin emosi g tenang. cape gw. slesai.

gw butuh suasana baru, nuansa baru, org baru.

Previous Older Entries Next Newer Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.